• September 2009
    S S R K J S M
    « Agu    
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    282930  

>Benarkah Orang Kristen itu sudah berada di “Terang”? Mzm 118:27

Benarkah Orang Kristen itu sudah berada di “Terang”?

Mazmur 118: 27

KHOTBAH

I. Apakah yang dimaksud dengan “Terang”?

I.1. “Terang” menurut R.A.Kartini.

Kartini didalam kumpulan suratnya ; “DOOR DUISTERNIS TOOT LICHT”, yang diterjemahkan oleh sastrawan Armijn Pane ialah : “Habis Gelap Terbitlah Terang”.  Sedangkan Prof. Dr. Haryati Soebadio, yang adalah cucu R.A. Kartini mengartikannya sebagai “Dari Gelap Menuju Cahaya”. Kartini menemukaan kata-kata yang amat menyentuh nuraninya ini dari ayat : Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Artinya ialah “Orang-orang yang beriman dibimbing Allah dari gelap menuju cahaya “. Kartini amat terkesan dengan ayat ini, karena ia merasakan sendiri proses perubahan dirinya, dari pemikiran jahiliyah kepada pemikiran terbimbing oleh Nuur Ilahi. Seorang pejuang seperti Kartini berjuang dari kegelapan menuju terang, tetapi didalam hidupnya apakah dia sudah merasakan terang itu sendiri? Apakah dia sudah berada didalam terang itu?

I.2. Terang menurut Paulus

Paulus didalam II Kor 4:6 : Sebab Allah yang telah berfirman: “Dari dalam gelap akan terbit terang!”, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.
Jelas Paulus: Dia sendirilah yang membuat terang itu berada dalam hati kita.

I.3. Terang menurut Mazmur yang jadi bacaan kita tadi :
pada ayat 27a : TUHANlah Allah, Dia menerangi kita. Adalah merupakan pengakuan pemazmur. Kita sudah ada didalam terang itu.

I.4. Terang menurut Yesus:
 Yesus berfirman didalam Yoh 8:12 :Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.
“Kita mempunyai terang hidup?”.  Kapan ?  Jawabnya, sejak kita mengikut Yesus !
Kita mengikut Yesus dan sudah merasa dan berada didalam terang itu. Tandanya apa? Tandanya jika kita sudah memancarkan terang Nya itu didalam kehidupan kita.
Apa artinya ”Memancarkan terang Kristus” artinya adalah ”mempermuliakan Allah dalam hidup kita”.
Mempermulikan Allah bukan berarti kita yang menjadikan Allah mulia. Allah memang sudah mulia, Ia sudah mulia sejak dari kekekalan dan tidak ada satu pun mahluk ciptaanNya yang dapat menjadikanNya lebih mulia.
Yang dimaksud dengan mempermuliakan Allah adalah memancarkan kemuliaan Allah, memancarkan terang Allah, seperti terang matahari dapat kita pancarkan apabila kita keluar dari ruangan gelap ataupun nuansa kegelapan, keluar membawa cermin dan memantulkan cahaya terang itu ke ruang yang masih gelap.
Inilah tujuan hidup yang Allah ingin kita lakukan.
Alkitab tidak menjelaskan secara terperinci buat masing-masing pribadi, bagaimana mempermuliakan Allah, Dia memberikan kebebasan bagi kita untuk berimprovisasi memuliakan Allah dalam kehidupan kita. Alkitab membebaskan kita dalam memuliakan Allah secara medetail, yang penting seluruh hidup kita hanya untuk kemuliaan Allah, karena kita sudah ditebus, dan tugas kita adalah pancarkanlah terang itu bagi yang lain yang masih berada didalam kegelapan.

II. Bagaimana kita mendapat terang itu?

II.1.Kita beroleh terang itu hanya karena  penebusan Allah sendiri ?
Kalau didalam text ayat 27 b tadi : Ikatkanlah korban hari raya itu dengan tali, pada tanduk- tanduk mezbah.
Di zaman Paulus, pengorbanan selalu berarti pembunuhan. Di dalam praktek-praktek agama Yahudi, korban dibawa kehadapan imam, dosa dari orang yang membawa persembahan tersebut diakui atas korban dan dengan demikian secara simbolik memindahkan dosa-dosanya kepada korban yang dipersembahkan tersebut. Kemudian korban tersebut dibunuh. Ini merupakan gambaran yang hidup yang mengingatkan kepada setiap orang bahwa “Upah Dosa adalah Maut”  dan bahwa keselamatan para pendosa digantikan secara substitusi.
Di dalam gambaran pengorbanan tersebut, korban yang dipersembahkan mati menggantikan tempat manusia yang mempersembahkannya. Korban tersebut harus mati agar orang tersebut tidak mati-mati.

II.2. Hanya iman Kristiani yang menawarkan penebusan.
Banyak cara orang lain untuk memperoleh keselamatan,  ada yang mengumpulkan amal, kebajikan, kebaikan, pahala, ada yang berusaha hidup suci, ada menyiksa diri, tapa dan lainnya usaha manusia untuk mendapatkan keselamatan atau masuk sorga atau nirwana.
Tetapi inti kepercayaan orang Kristen adalah: ”Yesus Kristus adalah Juruslamat mati diatas kayu salib untuk menebus dosa manusia”. Hanya orang Kristen yang melalui karya penebusan.

Paulus mengatakan bahwa persembahan yang kita persembahkan bukan persembahan yang mati tetapi persembahan yang hidup. Sehingga sebagai hasilnya kita mempersembahkan hidup kita kepada Allah, dan “tidak lagi hidup untuk diri sendiri tetapi untuk Dia, yang telah mati untuk kita dan telah dibangkitkan kembali”
Bagaiman kita bisa memahami ini ?
Benar Yesus mati di kayu salib itu fakta sejarah tetapi bagaimana mungkin seluruh umat manusia ditebus diampuni diselamatkan dari dosa dosanya? Bagaimana kita bisa memahaminya ini?
Yang mau dinyatakan Paulus adalah :
Kasih Allah yang dinyatakan oleh kematian Kristus itu tidak bergantung kepada pertobatan kita artinya kita bertobat atau tidak Allah didalam Kristus tetap mengasihi kita. Ini tidak masuk akal yang lazim adalah hukum take and give, artinya saya garuk punggung anda maka anda menggaruk punggung saya. Apa yang dilakukan oleh Allah: Kristus mati untuk kita ketika kita masih berdosa, ini tidak mungkin kita pahami kalau kita memakai logika otak.

Penebusan hanya bisa dipahami kalau memakai logika cinta.
Bayangkan kalau saya  mencintai seseorang dengan luar biasa tetapi cinta saya itu ditolak malah dia tambah dengan banyak menyakiti hati saya ? Bagaimana reaksi saya.
Kemungkinan pertama :
Saya berhenti mencintai dia dan mengambil keputusan dia bukan orang yang pantas menerima cinta saya.
Kemungkinan kedua :
Karena cinta saya yang luar biasa kepadanya saya tetap mencintainya walaupun saya mungkin menderita sekali dibuatnya. (Itulah cinta Allah kepada saya dan saudara)
Sekarang bagaimana dengan cinta seorang ibu kepada anaknya:
Seorang ibu sudah memaafkan anaknya walaupun anak itu sendiri belum menyadari kesalahan dan meminta maaf kepada ibunya.  Tidak masuk akal tetapi bagi seorang ibu bisa memahaminya bukan. Allah tetap mengasihi kita, tidak peduli apakah kita mengasihi dia atau tidak dia sudah menebus dosa kita. Jadi apakah kita perlu bertobat atau tidak ? Disatu pihak kita memang tidak perlu bertobat kalau pertobatan kita itu untuk memperoleh kasih Allah sebab kita bertobat atau tidak kita tetap dikasihi Allah. Tetapi kalau kita benar mengalami kasih Allah dalam hidup kita, kalau kita merasa penebusan dan penyelamatan Allah betul betul nyata, secara otomatis kita harus bertobat, Allah memang sudah mencintai kita tetapi kita tidak merasakan cintanya sama seperti anak yang durhaka tadi tanpa minta maaf kepada ibunya yang memang sudah memaafkanya. Tetapi anak itu akan merasakan cinta ibunya kalau dia bersedia memperbaiki hubungan dengan ibunya. Untuk lebih mengesankan tentang logika cinta yang mengakibatkan adanya penebusan tadi mari kita ikuti ilustrasi berikut:

ILUSTRASI CINTA SEJATI
Seorang istri suatu kali setelah membaca satu majalah wanita datang kepada suaminya dan sambil menyodorkan majalah itu katanya: ” Pa …, aku baru membaca sebuah artikel di majalah ini tentang  “Bagaimana memperkuat tali pernikahan” katanya..
“Masing-masing kita akan mencatat hal-hal yang kurang kita sukai. Kemudian, kita akan membahas bagaimana merubah hal-hal tersebut dan membuat hidup pernikahan kita bersama lebih bahagia …”
Suaminya mengangguk angguk saja dan istrinya berjanji tidak akan tersinggung ketika suaminya juga mencatat hal-hal yang kurang baik sebab hal tersebut untuk kebaikkan mereka bersama. Malam itu istrinya sepakat untuk berpisah kamar dan mencatat apa yang terlintas dalam benak mereka masing-masing.
Besok pagi ketika sarapan, mereka siap mendiskusikannya. “Aku akan mulai duluan ya”, kata sang istri. Ia lalu mengeluarkan daftarnya. Banyak sekali yang ditulisnya, sekitar 3 halaman …. Ketika ia mulai membacakan satu persatu hal yang tidak ia sukai dari suaminya, ia memperhatikan bahwa airmata suaminya mulai mengalir
“Maaf, apakah aku harus berhenti?” tanyanya. “Oh tidak, lanjutkan …” jawab suaminya. Lalu sang istri melanjutkan membacakan semua yang terdaftar, lalu kembali melipat kertasnya dengan manis di atas meja dan berkata dengan bahagia. “Sekarang gantian ya, papa yang membaca”.
Dengan suara perlahan suaminya berkata “Aku tidak mencatat sesuatu apapun di kertasku. Aku berpikir bahwa engkau sudah sempurna, dan aku tidak ingin merubahmu. Engkau adalah dirimu sendiri. Engkau cantik dan baik bagiku. Tidak satu pun dari pribadimu yang kudapatkan kurang ….aku hanya bisa menghitung kebaikan yang yang engkau buat.
Sang istri tersentak dan tersentuh oleh pernyataan dan ungkapan cinta serta isi hati suaminya. Bahwa suaminya menerimanya apa adanya … Istrinya menunduk dan menangis…..
Kristus sebagai suami, jemaat sebagai istri
Dalam hidup ini, banyak sekali kita merasa dikecewakan, depresi, dan sakit hati, kita menghitung kekecewaan kita tetapi tidak menghitung kebaikan Allah bagi kita. Sesungguhnya tak perlu menghabiskan waktu memikirkan hal-hal tersebut. Hidup ini penuh dengan keindahan, kesukacitaan, dan pengharapan.
Mengapa harus menghabiskan waktu memikirkan sisi yang buruk, mengecewakan, dan menyakitkan jika kita bisa menemukan banyak hal-hal yang indah di sekeliling kita? Saya percaya kita akan menjadi orang yang berbahagia jika kita mampu melihat dan bersyukur untuk hal-hal yang baik dan mencoba melupakan yang buruk.
Kristus mengasihi kita seperti suami mengasihi istri tidak mencatat keburukan kejelekan istrinya. Yesus sudah menebus dosa kita tidak menghitung-hitung dosa kita, pemazmur menyaksikan yang pertama: TUHANlah Allah, Dia menerangi kita, tugas kita memuliakan Allah dalam hidup kita dengan memancarkan kembali terang  Kristus dalam hidup kita, yaitu Kasih

Pemazmur menyaksikan yang kedua: “Ikatkanlah korban hari raya itu dengan tali, pada tanduk- tanduk mezbah“. Artinya bersyukurlah karena Yesus sudah dikorbankan untuk menebus  kita.Sukacita meliputi hidup kita, karena dosa kita sudah lunas ditebus, jangan menghitung kekurangan yang kita terima, tetapi hitung kebaikan Nya didalam hidup kita, sehingga kita selalu dapat bersyukur. Persembahkan juga dirimu bagi orang lain.
Jadi kita bukan dalam perjalanan menuju terang itu tetapi kita sudah berada dalam terang dalam rupa cahaya wajah Kristus, sekarang mari kita pergi keluar bawalah cermin dan pantulkan terang itu kepada kegelapan yang ada disekitar kita.
Ysm/08/04/08

Satu Tanggapan

  1. hmmm, terang berarti melangkah dari tempat lama yang gelap ke dalam tempat baru yang terang..hebatnya sebenarnya tidak ada satu hal pun yang melayakkan saya pindah ke terang kan..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: