• Juli 2009
    S S R K J S M
    « Mei   Agu »
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    2728293031  

>”ALLAH MELENGKAPI ORANG YANG DIA PANGGIL DAN UTUS” Yer 1:1-8

Allah melengkapi orang yang dipanggil dan utus.

Yeremia 1:1-8

Khotbah :

1. Tuhan memilih dan memanggil Yeremia.

Yeremia dipanggil dan ditetapkan Tuhan menjadi nabi sebelum Yeremia dilahirkan bahkan sebelum ia ada dalam rahim ibunya (Yeremia 1:5). Apa yang disampaikan dalam ayat 5 ini mungkin saja menggiring orang berpikir soal “takdir”: bahwa Yeremia sudah “ditakdirkan” Allah untuk menjadi nabi. Pemanggilan dan penetapan Yeremia sebagai nabi “sebelum ia dilahirkan” bahkan “sebelum ia ada dalam rahim ibunya” sama sekali bukan menjelaskan bahwa Yeremia telah “ditakdirkan” menjadi nabi, melainkan sebuah penegasan bahwa terpanggilnya Yeremia menjadi nabi merupakan inisiatif Allah. Allah-lah yang menjadi “inisiator” pemilihan dan penetapan itu, dan bahwa dasar pemilihan Yeremia terletak pada Allah sendiri dan tidak terpengaruh oleh pihak lain.

a. Kenapa Yeremia yang muda dan cenderung penakut yang dipanggil ?

Peristiwa panggilan Allah kepada Yeremia adalah suatu peristiwa yang diluar akal manusia karena kita tidak dapat memahami akan pemikiran dan rencana Allah. Untuk mengemban tugas yang begitu berat (ay 10) seharusnya dibutuhkan seorang yang luar biasa bukan? Tapi siapakah Yeremia? Ia tidak mempunyai kemampuan yang hebat, belum berpengalaman bahkan cenderung penakut (ay 6). Hal yang lebih membingungkan kita lagi adalah, ketika Yeremia mengutarakan keengganan dan ketakutannya, Allah seakan-akan tidak mengindahkan perasaan Yeremia justru terkesan `memaksanya’ (ay 7). Kalau pun Allah memberikan dorongan dan berusaha menenteramkan hatinya (ay 8), tidakkah ini terlalu minim untuk tugas yang maha berat dan sukar ini? Apalagi Allah juga tidak menjelaskan secara rinci tugas dan tanggung jawabnya. Hal yang menonjol dari bacaan kita kalau kita amati peristiwa ini dengan lebih seksama, di hadapan kita dipaparkan tentang ”Allah yang penuh kuasa” dan ”manusia yang lemah”. Allah ingin memperlihatkan kepada manusia bahwa: kuat, hebat, mampu, dan berani bukan berarti ”keberhasilan”. Namun ini tidak berarti bahwa Allah memakai siapa saja yang lemah. Sebaliknya Ia telah mengenal, menguduskan, dan menetapkan sebelum memanggil seseorang (ay 5). Allah telah berhitung dan tentu saja perhitunganNya tidak mungkin meleset.

b.   Tuhan yang memanggil dan melengkapi Yeremia.

Tidak cukup sampai di sini, setelah ungkapan keengganan Yeremia: “Ah Tuhan Allah!” Allah menjumpai Yeremia dengan firmanNya dan memberikan “sentuhan” kepada titik kelemahan Yeremia (ay 7-9). Allah menyentuh mulutnya, hasilnya sangat luar biasa: sejak saat itu “mulut” nya dipakai Allah untuk “memekakkan” telinga umat Allah yang murtad. Ia yang semula enggan dan takut(?) untuk menyampaikan firman Allah justru menjadikan firman itu sumber kekuatan dan sukacitanya (Yer 15:16).

c.   Yeremia mengetahui dengan jelas tentang panggilannya menjadi nabi.

Juga dapat dilihat bahwa pemahaman Yeremia yang jelas akan panggilannya sebagai nabi (Yer 1:17), seiring dengan penegasan Allah yang berulang-ulanglah (mis. Yer 3:12; Yer 7:2,27-28; Yer 11:2,6; Yer 13:12-13; Yer 17:19-20) yang memungkinkan dia untuk memberitakan nubuatnya dengan tegas dan setia kepada Yehuda kendatipun tanggapan yang terus diterimanya adalah permusuhan, penolakan, dan penganiayaan (mis. Yer 15:20-21).

2. Tuhan juga memanggil dan mengutus kita.

Yeremia dipanggil dan ditetapkan Tuhan menjadi nabi sebelum Yeremia dilahirkan bahkan sebelum ia ada dalam rahim ibunya (Yeremia 1:5). Bercermin dari firman ini tidaklah salah jika kita memahami bahwa tidak ada seorangpun yang lahir secara kebetulan bahkan lahir tanpa tujuan. Tetapi setiap orang lahir ke bumi adalah bagian dari ‘campur tangan’ Tuhan untuk melaksanakan tugas tertentu dariNya. Seperti nabi Yeremia dipanggil dan ditetapkan menjadi solusi bagi Israel yang berontak, kelahiran kita pun harus kita yakini sebagai sesuatu yang “special”.  Dan seperti Yeremia, kita (orang Kristen) adalah juga orang-orang yang Tuhan panggil dan tetapkan untuk menyampaikan firman (:kehendak) Tuhan. Dan harus diingat bahwa penugasan Tuhan bagi kita bukanlah pilihan atau keputusan kita, tetapi Tuhanlah yang menentukannya bagi kita. Itu berarti, kita menjadi pendeta, guru agama, penatua, diaken, itu bukanlah prestasi atau usaha kita, melainkan lebih merupakan inisiatif Tuhan sendiri. Karena itu kita tidak patut ‘membusungkan dada’, apalagi sampai tidak taat pada panggilan dan penetapan Tuhan.

a. Kenapa kita berani mengaku ”dengan segenap hatiku”?

Apa yang membuat kita berani berkata ‘ya dengan segenap hatiku’ atas panggilanNya, berani melangkah walau terbatas ? Yeremia yang telah “diundang”  dan  “ditarik”  Allah  keluar  dari keterbatasan yang dimilikinya untuk kemudian “menggantungkan segalanya” pada Tuhan. Kita juga diingatkan agar segera keluar dari rasa keterbatasan kita yang menjadikan kita enggan dan takut melaksanakan panggilan Tuhan. Bersama Allah, kita berjalan.

b. Tantangan yang dihadapi pelayan Tuhan

Pemberitaan firman Tuhan seringkali hanya dipandang sebagai berita yang mewartakan sukacita, kedamaian, dan kabar baik bagi manusia. Padahal, firman Tuhan juga mengandung berita yang menggoncangkan, meresahkan, dan mengancam kehidupan manusia seperti berita yang harus disampaikan oleh Yeremia kepada bangsa Yehuda.. Apa yang disampaikan Yeremia tentulah sangat menyakitkan, meresahkan, dan mengancam. Bagaimana mungkin bangsa pilihan Allah akan dihancurkan oleh bangsa-bangsa kafir? Berita yang mengusik kemapanan, menggoncang ’status quo’, menjungkirbalikkan konsep-konsep yang sudah dianut masyarakat, hanya mendatangkan risiko yang tidak kecil bagi sang pembawa berita, mungkin nyawa pembawa berita itu menjadi taruhannya. Itulah sebabnya Yeremia gentar karena ia memahami betul risiko ini (1:17). Allah pun sudah memahami reaksi apa yang akan ditunjukkan oleh Yeremia. Karena itu Allah menggunakan berbagai cara untuk menyentuh seluruh aspek pribadinya seperti fisik, imaginasi, intelektual, dan perasaan. Walau tidak disebutkan bagaimana akhirnya Yeremia bersedia memenuhi panggilanNya, namun pasal-pasal berikutnya menceritakan bagaimana ia menyatakan suaraNya. Allah telah berhasil meyakinkan Yeremia betapa pentingnya berita bencana itu harus disampaikan kepada Yehuda supaya mereka nantinya dapat kembali menjadi umat pilihan Allah yang kudus dan taat. Yeremia terus mewartakan suara Allah walau tidak ada yang mendengar, walau dibuang dalam pengasingan, bahkan nyawanya menjadi taruhan.

Demikian jugalah setiap orang Kristen harus berperan seperti Yeremia: mewartakan kebenaran yang akan membuat telinga jemaat yang korupsi merah, membuat orang yang menyalahgunakan kekuasaan kebakaran jenggot, membuat orang kaya yang kerjanya kolusi tidak bisa tidur nyenyak, dll. Mungkin, seperti Yeremia, kita akan enggan bahkan takut. Namun, jika kita membiarkan Allah menyentuh seluruh aspek kepribadian kita, niscaya kita akan memiliki keberanian untuk tak henti-hentinya menyampaikan firman Tuhan, menyuarakan pertobatan.

3. Bagaimana sikap kita terhadap panggilan Allah.

Sama seperti Yeremia berlakulah seperti anak kecil.

Apakah Yeremia masih tetap seperti anak kecil sepanjang kariernya?

Apabila kita menyelusuri kitab Yeremia, maka kita menemukan bahwa akhir hidup Yeremia tidak seperti Salomo dan Saul. Yeremia tidak menjadi sangat berkuasa dan kaya raya seperti Salomo. Dia juga tidak menjadi sombong dan acuh terhadap Tuhan, seperti Saul. Melainkan, Yeremia tetap seperti seorang anak kecil.

”Engkau telah membujuk aku, ya Tuhan, dan aku telah membiarkan diriku dibujuk”

Yeremia berlaku jujur. Ia mengutarakan seluruh perasaan terhadap Tuhan. Ia merasa dibohongi atau dijebak oleh Tuhan. Karena semula ia sudah menduga bahwa beban yang diberikan kepadanya terlalu besar. Tetapi karena Allah telah berjanji akan menyertainya dan melepaskannya maka, Yeremia telah menerima panggilan tersebut. Tetapi, setelah Yeremia menjalankan tugas panggilannya, maka ia merasa tidak sanggup lagi. Ia berkata kepada Tuhan, sbb.: ‘Engkau panggil aku sebagai nabi, penyambung lidahMu, tetapi aku tidak menduga bahwa panggilan tersebut sebegitu berat. Engkau membohongi aku dan menjebak aku.’

Dalam hal ini Yeremia berbicara seperti seorang anak kecil. Seorang anak kecil selalu jujur, mereka berbicara seperti apa yang ada dalam pikirannya.

Anak kecil memiliki  empat karakter umum yakni:

  • Mereka jujur terhadap perasaan mereka
  • Mereka merasa lemah, bergantung kepada Bapanya
  • Mereka selalu mengajukan pertanyaan
  • Mereka ingin belajar sesuatu yang baru

Ada kekuatan yang luar biasa kepada Yeremia  mengatakan, “Apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataanMu, maka aku menikmatinya; firman-Mu itu menjadi kegirangan bagiku, dan menjadi kesukaan hatiku, …………..” (Yer. 15: 16).

Jadi, hal yang pertama yang menompang kehidupan Yeremia, sehingga ia bertahan dalam kesengsaraan dan penderitaan nya adalah firman Tuhan.

Isai Mila/Ysm/14/07/09

Satu Tanggapan

  1. tulisan yang sangat bagus

    alangkah indahnya apabila kita tahu kalau dioanggila dan diutus
    karena setiap waktu kita selalu meraba-raba jalan yang ada di depan kita seakan-akan gelap sekali,
    lebih-lebih di jaman sekarang ini, segala sesuatunya serba insatan dan global, sudah tidak ada prosedur dan batasan lagi,

    terimakasih atas tulisan ini,
    semoga membantu saya dalam menemukan jejak SANG KRISTUS yang menjadi sumber PANGGILAN

    salam dan doa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: