• Mei 2009
    S S R K J S M
    « Feb   Jul »
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

>”SAYA ADALAH ANGGOTA TUBUH KRISTUS” I Kor 12:27-31

”SAYA ADALAH ANGGOTA TUBUH KRISTUS”

I Kor 12:27-31

Khotbah

1. Anggota Tubuh Kristus

Ketika dalam satu kesempatan saya bertemu dengan seseorang dan kami berkenalan dan mengobrol tiba pada percakapan tentang asal gereja kami masing-masing dia berkata ”tetapi saya hanya jemaat biasa”. Dalam percakapan berikutnya seolah olah dia tidak punya tanggung jawab apa-apa terhadap gerejanya, seolah olah dia hanya sebagai penonton. Benarkah demikian ?

Setiap Minggu kita duduk dibangku gereja, kita menyanyikan lagu pujian, kita mendengarkan khotbah yang diberitakan, demikian kita ulangi lagi minggu depan. Seakan kita adalah penonton, dan mereka menyebut kita jemaat biasa, mereka memanggil kita anggota Jemaat. Kita hanya datang dan mendengarkan, lalu pulang. Memang tidak salah dengan sebutan anggota jemaat, tetapi kita harus menyadari bahwa kita bukan sebagai penonton di gedung gereja kita sendiri memberikan uang kolekte pengganti uang karcis seperti orang yang sedang menonton konser. Kita semua, seperti bacaan kita tadi, mempuyai bagian peran masing-masing sebagai anggota tubuh Kristus.

“Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih”. (Efesus 4:16)

Setiap bagian dari tubuh Kristus, yaitu anggota jemaat Allah, mempunyai tugasnya masing-masing. Tubuh Kristus terbentuk oleh pelayanan semua bagian dari tubuh tersebut, bukan hanya pelayanan dari pendeta, penatua, diaken dan pengajar, tetapi semua orang yang menyebut dirinya jemaat Allah, adalah bagian dari tubuh Kristus yang mempunyai fungsinya sendiri-sendiri. Mereka adalah pelayan-pelayan Tuhan, mereka adalah pemain didalam gereja Tuhan, bukan penonton.

Banyak orang Kristen tidak menyadari hal ini, sehingga setiap bagian dari tubuh Kristus ini tidak berfungsi, dan kita menyebut diri kita hanya jemaat biasa atau hanya anggota gereja, bukan pelayan Tuhan.

Firman Tuhan: ”Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya”.

2. Jabatan didalam tubuh Kristus pada Jemaat mula-mula.

Pada Jemaat mula-mula Allah telah menetapkan beberapa orang dalam Jemaat: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berkata-kata dalam bahasa roh. Didalam tubuh Kristus, setiap orang mempunyai bagiannya masing-masing, tidak semua menjadi rasul, tidak semua menjadi nabi, tidak semua menjadi pengajar, tetapi setiap orang diperlengkapi oleh Allah pekerjaan baik yang harus mereka lakukan sebagai bagian dari anggota tubuh yang berfungsi (Efesus 2:10).

3. Jabatan didalam tubuh Kristus pada Jemaat aliran Calvinis.

Menurut Calvin, di dalam gereja ada empat jabatan, yakni: pendeta/gembala, penatua, diaken/syamas dan pengajar. Khusus mengenai “pengajar”, jabatan ini mencakup semua fungsionaris gereja yang terlibat dalam tugas pengajaran yang berhubungan dengan iman Kristiani, mulai dari guru agama (di sekolah), guru katekisasi, sampai dengan dosen-dosen teologi.

Didalam Jemaat Tuhan tidak semua menjadi pendeta, tidak semua menjadi penatua, tidak semua jadi diaken dan tidak semua jadi pengajar tetapi kita seharusnya melayani dengan karunia-karunia yang telah diberikan kepada kita secara khusus.

4. Karunia anggota tubuh Kristus.

Karena itu, nasihat Firman Tuhan tadi, “berusahalah untuk mengetahui karunia apa yang diberikan kepada kamu”, berusahalah untuk tetap tinggal didalamnya, maka Allah akan menyempurnakan pelayanan dari setiap bagian tubuh Kristus. Jangan membayangkan untuk menjadi pendeta, penatua, diaken dan pengajar, baru terlibat dalam pelayanan tetapi mari kita melihat apa karunia yang kita miliki.

Tiap orang dilengkapi Tuhan dengan karunia yang berlainan yang unik dan spesifik, karena itu cari tahulah apa karunia utama anda, dan layani masing-masing anggota tubuh Kristus dengan karunia tersebut, baik menasihati, melayani, memperhatikan, membimbing, mengajar, memberi dan lain-lain dan yang terakhir dan terutama (ayat 31) adalah karunia mengasihi (Kasih). Setiap jemaat mengambil peran masing-masing didalam tubuh, mereka semua adalah pemain, bukan penonton didalam gereja. Pantaskah kita berdiam diri, menjadi penonton didalam gereja? Merasa cukup dengan datang dan mendengar setiap minggunya. Kita tentu tidak pantas disebut anggota tubuh Kristus, sebab kita adalah bagian tubuh yang mati dan tidak berfungsi. Mulai hari ini, mari kita terlibat didalam pelayanan dengan bersungguh-sungguh, bukan untuk menjadi pekerja gereja, bukan untuk menjadi pendeta, penatua atau diaken, atau pengajar, tetapi melalui karunia yang kita terima, masing-masing kita melayani sesama anggota tubuh Kristus.

Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus. Kita melayani Allah, adalah melayani manusia, melayani mereka orang-orang beriman, saudara-saudara kita didalam Kristus. Bukan hanya menjadi song leader, menjadi singer, organis pianis, petugas kantor gereja atau pengkotbah yang hanya melayani di gereja disetiap kebaktian, tetapi setiap hari tugas anggota tubuh Kristus adalah melayani satu sama lain, didalam kehidupan sehari-hari.

Melayani Allah adalah melayani saudara seiman, mereka yang disebut sebagai saudara-Ku oleh Tuhan Yesus Kristus. Berikan mereka minum, maka upahmu tidak akan hilang di Kerajaan Surga (Markus 9:41).

Mari kita sebagai bagian dari tubuh Kristus, mengambil peran kita masing-masing dan berfungsi selayaknya anggota tubuh yang hidup. Layanilah saudara seiman dengan karunia yang telah diberikan kepada kita, dan mari kita saling mengasihi dan tolong menolong.

5. Potensi Diri yang Unik

Potensi diri merupakan karunia atau anugerah yang diberikan oleh Tuhan kepada ciptaan-Nya. Tidak ada seorangpun yang tidak memilikinya, hanya kadar dan spesifikasinya yang mungkin berbeda.  Ada yang memiliki potensi dibidang musik, ada pula yang memiliki potensi dibidang teknik, atau ada yang dibidang kesehatan, ada yang memberi nasihat, olahraga, managemen dan lain sebagainya. Tidak ada seorangpun yang tidak memiliki potensi diri, terutama orang sehat.  Potensi diri yang dimiliki seseorang, pada dasarnya merupakan sesuatu yang unik. Keunikan-keunikan dalam setiap potensi diri perlu dipadukan sehingga akan diperoleh sebuah aransemen yang baik untuk mengembangkan suatu persekutuan.  Keunikan ini pada dasarnya saling melengkapi dan bukan saling meniadakan.  Potensi yang satu menjadi bagian dari potensi yang lain.  Dengan demikian, tidak perlu adanya kecemburuan atau iri terhadap potensi diri orang lain.

6. Potensi diri Dihadapan Allah.

Selain itu potensi jangan pernah dilalaikan khususnya bagi kami yang sudah mengaku ”ya dengan segenap hatiku” sebagai pelayan Tuhan :

1Tim 4:14 Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu, yang telah diberikan kepadamu oleh nubuat dan dengan penumpangan tangan sidang penatua.

bahkan sebagai karunia yang harus dikobarkan

2 Tim 1:6 Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu.

Tidak ada seorangpun yang tidak memiliki potensi untuk menjadi pemimpin.  Kepemimpinan dimulai dari diri sendiri.  Sehingga setiap orang akan menjadi pemimpin, minimal untuk dirinya sendiri.
Untuk penggalian potensi diri tidak perlu mengubah diri dengan menjadi orang lain.

7. Contoh Potensi Diri

Beberapa contoh dalam Alkitab menunjukkan manusia sering kali tidak mampu mengenali potensi yang ada dalam dirinya secara tepat.  Setelah dekat dengan Allah maka potensi diri itu nyata.

7.1.  Musa yang mengaku tidak memiliki kemampuan dalam meyakinkan Bangsa Israel untuk keluar dari tanah Mesir.  Tetapi Allah mengenal Musa dan IA menunjukkannya kepada Musa, tentang siapakah dia yang sesungguhnya.  Demikian juga ketika Musa mengatakan tidak memiliki kemampuan untuk berbicara, maka Allah melengkapi dengan Harun sebagai juru bicara.

7.2.  Contoh lainnya adalah Daud.  Isai sang Ayah maupun Samuel melihat kakak-kakak Daud lebih berpotensi sebagai raja Israel pengganti Saul.  Tetapi pandangan Samuel dan Isai salah, karena Allah melihat hal lain yang tersembunyi.  Sehingga Daud yang diurapi untuk menjadi raja Israel.

Potensi yang ada pada setiap orang sangat perlu dikembangkan guna mendukung pelayanan yang dipercayakan.  Jangan pernah membatasi dan menghakimi diri sendiri dengan kata tidak bisa atau pun bersembunyi dibalik kata “aku tidak punya talenta”.

Demikian juga didalam jemaat kita, dengan kemajuan Teknologi Informasi yang begitu maju sudah selayaknya kita bisa menghimpun suatu data jemaat dan potensi yang dimilikinya, karena sudah begitu banyak dibuat dan dijual software Church Management yang dapat memanage administrasi serta data dan potensi jemaat. Sebagai contoh kecil:

7.3  Ketika gereja kita mau mengadakan AC untuk pendingin ruangan ibadah di Jatipon jika kita punya data jemaat yang baik dengan mudahnya kita dapat mencari jemaat yang dapat ditunjuk sebagai penasehat atau konsultan atau Tenaga Ahli dibidang itu yang memang ada di jemaat kita sehingga kapasitas, type dan noise (tingkat kebisingan) didapat yang optimal sesuai dengan kebutuhan gereja kita.

Jangan sepelekan setiap karunia yang dimiliki oleh jemaat yang menyebut mereka jemaat biasa, orang awam teologia, walau sekecil apapun itu karena semua potensi itu tanpa kita ketahui dapat membawa jiwa kepada Kristus yang luar biasa dan melengkapi tubuh Kristus, sebagai contoh:

7.4. Ada hal menarik dari berita saat session pembukaan Kongres Penginjilan Dunia di Manila (Lausanne II) yang membawakan tema “Mandate of The Laity”, sebab pada saat itu theme leader bertanya kepada 4000an hadirin yang memadati auditorium Phillipine Convention Centre itu “Siapakah yang menjadi Kristen karena kebaktian Kebangunan Rohani?“. Jawaban atas pertanyaan itu adalah bahwa kira-kira 10 % hadirin berdiri dari duduknya. Kemudian pertanyaan itu disambung dengan : “Siapakah yang menjadi Kristen karena Kebaktian di Gereja?“, jawabannya adalah kira-kira 10 % hadirin berdiri dari duduknya. Menarik sekali jawaban yang diperoleh ketika ditanyakan : “Siapakah yang menjadi Kristen karena teman, guru, orang tua, saudara, atau penginjilan pribadi?“, ternyata ada sekitar 70 % dari hadirin berdiri dari duduknya!

Kenyataan itu sungguh mengejutkan, sebab rupanya pelayanan para Penginjil maupun Pendeta sekalipun cukup banyak hasilnya, ternyata kurang berdampak luas jika dibandingkan dengan peran Kaum Awam dalam membawa sesamanya untuk mau datang kepada Kristus. Lebih-lebih kalau dilihat bahwa mereka yang hadir itu semuanya adalah utusan hamba-hamba Tuhan atau aktivitas-aktivitas Kristen, artinya bahwa dampak pelayanan kaum Awam telah mampu membangunkan sebagian besar pelayan-pelayan Tuhan yang hadir di Lausanne II dan Kaum Awam itu rupanya menjadi “ujung tombak” (spearhead) penginjilan sebelum kemudian dilanjutkan oleh para Pendeta.

Akhirnya kita mengaku :

”Saya adalah anggota tubuh Kristus” yang tidak mati tetapi anggota yang hidup, bukan penonton tetapi pemain, tidak diam tapi bergerak melayani, Yesus menolong saya. Amin.

Ysm/28/05/09

Satu Tanggapan

  1. bgm menentukan itulah potensi yang sesungguhnya.?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: