>”MERUBAH SIKAP MENTAL PEMALAS” Ams 6:6-11

  Merubah sikap mental “pemalas”?

Amsal 6:6-11

Bagaiman reaksi bapak ibu setelah kita baca teks Alkitab tadi khususnya Ams 6:6-11. Mungkin datar saja, sebab tampaknya teks itu terlalu biasa dan simpel, mudah dipahami tanpa harus ditafsir, dan tidak memuat amanat yang sangat memikat perhatian. Namun jika ditanya kenapa teks tadi simpel dan biasa saja ? Mari kita dalami ilustrasi yang ditulis Amsal, semut.

Pertanyaan : Pernahkah saudara secara serius memperhatikan kehidupan semut? Saya menunjukkan biografi dan keistimewaan semut :

  • Umur          : sampai 6 tahun, bekerja walaupun usia lanjut
  • Alamat       : Menghuni hampir diseluruh muka bumi kecuali Islandia, Greenland dan Hawai.
  • Kebiasaan : Setiap bertemu seperti bersalam-salaman cipika cipiki lalu berpisah dengan lintasan yang sama. (mungkin yang mereka bisikan dimana “gula tumpah” karena mereka suka sekali makan gula “disitu mereka ada”) mereka melalui lintasan yang sama dan tidak pernah mundur pada lintasan.Dalam bekerja mereka tidak mengangkat pemimpin. Seekor semut dapat mengangkat daun seberat 50 kali berat badannya, dengan jarak 50 meter kalau disetarakan dengan manusia mengangkat 3 ton sejauh 25 km. Semut saling mengorbankan diri untuk kelompoknya bila sarangnya basah dia mengeluarkan makanan dari lumbungnya dan menjemurnya dipanas matahari setelah kering dia simpan kembali kelumbungnya. Sebagian semut meminum air atau susu sebanyak banyaknya dalam perutnya lalu dia menggantung di langit langit sarangnya dan semut yang haus dapat minum darinya.
Pantaslah penulis Amsal berkata : Hai pemalas, pergilah kepada semut,Menurut saya malas adalah ingin mendapatkan sesuatu tetapi tidak mau “repot membayar harganya”. Saya mau makan nangka tapi tidak mau kena getah. Saya mau lulus tapi tidak mau belajar. Saya mau uang banyak tapi tidak mau bekerja keras dst. Kalau kita orang tua sering sekali berkata kepada anak : Hai bangun sudah siang! jangan malas! banyak yang dapat dikerjakan ! Buku Pelajaran bertumpuk ! Banyak yang dapat dipelajari ! Tetapi jika sebaliknya anak berkata kepada orang tua : Bapak dan ibu rajinlah belajar ! Bapak penatua rajinlah belajar ! Tentu kita tersinggung. Jika seandainya anak kita berkata : Pak Pendeta rajin dong membaca buku! Tentu saja kita orang tua akan marah kepada anak itu apalagi pak pendeta pasti mesem. Kenapa begitu karena sudah tertanam dibenak kita bahwa belajar tugas dan kewajiban anak. Kita orang tua sering ditanya anak dan merasa kita bisa, apalagi pendeta tempat jemaat curhat bahkan tempat bertanya akan segala hal tentang kehidupan tentu merasa bisa dan biasa menjawab setiap pertanyaan jemaat.

Apa itu malas ?

Bagaimana agar seseorang menjadi rajin?

Secara psikologi seorang anak atau seseorang tidak akan malas jika dia mengenal dan mempunyai visi atau gambaran keinginan masa depan dan dia merasa bergairah dan tercipta motivasi dalam dirinya untuk mencapainya, namun yang terpenting visi tersebut diterjemahkan dalam kehidupan sehari hari. Visi masa depan itu bisa timbul karena model yang timbul dalam dirinya yang dipengaruhi oleh orang tua, lingkungan, ataupun pengalaman atau otobiografi orang lain.

Bagaimana cara memandang masa depan?

Terdapat dua cara pandang ekstrem tentang masa depan:

1. Orang yang tidak melakukan apapun dan hanya membiarkan masa depan “terjadi” atas hidupnya : (“nrimo”), hidupnya mengalir bagai sungai, mengikuti hukum alam, mengalir dari ketinggian ketempat rendah, “pasrah sempurna??? dalam arti negatif”. Semut-semut memang tidak dapat mencanangkan perencanaan strategi jangka panjang, tetapi secara naluriah mereka mengetahui bagaimana bertahan dalam musim dingin, bagaimana menghadapi kelangkaan makanan, mereka dengan rajin mengumpulkan makanan selama makanan masih tersedia. Dengan cara serupa, kita juga harus bijaksana tidak berpuas-diri ketika mengalami kejayaan dan tidak panik ketika menghadapi kemunduran usaha yang tiba-tiba terjadi, mereka dengan bijaksana bersiaga menghadapi segala keadaan, entah itu baik atau buruk. Rahasia kesuksesan hewan seperti semut tadi adalah karena hewan menyesuaikan dan tunduk kepada hukum alam.

2. Orang yang begitu terobsesi dengan merencanakan segala sesuatu secara detail untuk setiap minggu, setiap bulan dan setiap tahun yang mendatang dan akibatnya dia tidak dapat menikmati dan menghargai masa sekarang.

Sebenarnya ada cara pandang ketiga yaitu.

3. Orang yang menjalankan pekerjaan dan kebijakan, berdasarkan apa yang dia ketahui dan apa yang dapat dia antisipasi, tanpa memungkiri bahwa perencanaan paling sempurnapun tidak lepas dari ancaman kegagalan akibat perubahan dan kejadian yang tak terduga dalam dunia ini.

Bagaimana rupanya tindakan seseorang jika dia mempunyai visi kemasa depan? Sebenarnya visi masa depan itu tergambar dari pilihan-pilihan yang dia ambil.

Pada hakekatnya setiap orang adalah pemimpin, paling tidak dia menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri. Kenapa ? Karena setiap manusia mempunyai hak untuk menentukan pilihan, setidaknya untuk pilihan untuk dirinya sendiri. Manusia punya kebebasan untuk memilih apabila dia dapat menyadari akan adanya pilihan itu. Begitu kita menyadari adanya pilihan kita berubah dari objek menjadi subjek. Contoh : “Saya harus pergi” jangan, katakanlah:”Saya mau pergi” dengan seketika kita menjadi subjek. Saya boleh pergi atau saya tidak pergi tergantung dari pilihan saya, berdasarkan pertimbangan saya. Apakah benar kita dapat mempunyai pilihan dalam setiap situasi ? Jawabnya ya, kecuali kehendak Allah, seperti kita tidak dapat memilih siapa orang tua kita, dimana kita lahir, laki laki atau perempuan, kita tidak dapat mengontrol keamanan Jakarta, tetapi resiko dapat dikurangi dengan mengurangi keluar malam.

Jadi kelebihan utama manusia dan hewan adalah manusia punya pilihan sedangkan hewan tidak. Tetapi sayangnya setiap pilihan itu punya konsekwensi yang tidak dapat di kontrol oleh manusia. Tetapi diatur oleh hukum alam dibawah kuasa Allah. Karena itu orientasi pilihan manusia menjadi :

  1. Kebutuhan fisik
  2. Mengutamakan kebutuhan sosial dan emosional
  3. Mementingkan kebutuhan belajar
  4. Mementingkan kebutuhan spiritual keagamaan

1. Orang yang sangat mementingkan kepemilikan barang, penampilan fisik, gila materi. (to live).

2.  Orang yang sangat senang bersosialisasi, bergaul dan akan mempunyai banyak teman.(to love). Orang ini yang senantiasa dapat tumbuh dan berkembang. Mereka belajar seumur hidup (to learn).

3. Orang yang selalu mencari makna hidup dan tujuan hidup. Salah satu bentuknya adalah sangat tekun beribadah kepada Tuhan.( leaving a legacy = meninggalkan warisan)

Jika kita hanya mempunyai pilihan 1. dan 2. maka kita tidak berbeda jauh dengan semut tadi. Hanya pilihan 3. dan 4. lah yang membuat manusia derajatnya lebih tinggi dari semut. Karena itu pilihan terbaik adalah memilih keempatnya sekaligus, sehingga jadi manusia seutuhnya yaitu mahluk yang mementingkan fisik, sosial, mental dan spiritual sekali gus tetapi ingat harus dengan porsi yang pas dari keempat unsur tadi.

Tiga orang tukang batu sedang sibuk memasang batu bata. Seseorang datang bertanya kepada mereka: “Apa yang sedang mereka kerjakan?”. Tukang batu pertama menjawab dengan kesal : Apa kamu nggak lihat ini saya sedang sibuk memasang batu bata ? Tukang batu kedua menjawab : “Saya sedang cari makan”. Tukang batu ketiga menjawab sambil bersiul siul dengan berseri seri : “Saya sedang memasang tembok dinding rumah ibadah ini”.

Tukang batu pertama gagal menemukan makna dalam pekerjaannya, tetapi tukang batu kedua sudah melihat makna pekerjaannya walaupun hanya karena kebutuhan fisiknya. Tukang batu ketiga begitu bersemangat dan yang dia lakukan dia tahu jauh lebih besar dari sekedar bangunan fisiknya. Dia sadar hasil kerjanya bukan hanya dinikmati sekarang tetapi nanti, walaupun mungkin dia sudah tidak ada lagi didunia ini bangunan rumah ibadah ini akan dipakai orang banyak dan dalam jangka waktu yang lama. Hal ini disebut leaving a legacy (meninggalkan warisan). Leaving a legacy merupakan kebutuhan manusia yang tertinggi sesudah kebutuhan fisik (to live) kebutuhan sosial emosional (to love) kebutuhan mental (to learn).

Sekarang lihatlah pekerjaan saudara saat ini ?
 Kalau yang saudara cari adalah aspek fisiknya sekedar mencari nafkah bararti tingkatannya to live. Tetapi ada juga orang yang bekerja bukan semata-mata untuk mendapatkan uang tetapi untuk mendapatkan teman, pergaulan yang luas karena dia sangat membutuhkan lingkungan untuk bergaul dan bersosialisai, kalau itu yang terjadi tingkatannya to love. Ada juga orang bekerja karena mencari tantangan dan kesempatan untuk terus belajar, kalau diberi tugas yang rutin dan mudah dia tidak betah walaupun unsur to live dan to love nya terpenuhi orang ini tingkatan to learn. (meninggalkan warisan). Kalau pekerjaan kita itu memberikan sumbangan kepada orang lain dan kita sadar pekerjaan kita itu meningkatkan kualitas hidup orang lain, mempunyai makna membantu orang lain untuk sukses. Tingkatan inilah yang menggairahkan kita untuk bekerja, memberikan kepuasan tiada tara, inilah yang membuat keberadaan kita didunia ini jauh lebih lama dari usia yang diberikan Tuhan kepada kita. Inilah kebaikan kebaikan yang mengalir kepada anak cucu kita kelak.

Leaving a legacy. Seorang ibu dengan tekun membimbing merawat anak anaknya. Anaknya beranjak dewasa bekerja, ibu ini seolah bertindak sebagai manager bagi anak-anaknya sampai anak itu mandiri dan sukses hidupnya adalah suatu pekerjaan meningkatkan kwalitas hidup generasi dibawahnya bekerja tanpa imbalan. Saya pikir pekerjaan ibu ini jauh melebihi dari manager profesional seorang artis yang lagi trend saat ini yang bekerja dengan imbalan.

Kita bekerja juga merupakan pelayanan kepada orang lain. Seorang pernah menulis begini: “Service is the rent that we pay for our room on earth”. “Pelayanan adalah harga yang harus kita bayar untuk tempat kita di bumi ini”.

Seorang kakek yang sudah tua renta menanam biji pohon durian, melihat itu tetangganya keheranan dan bertanya:”Apakah kakek berharap dapat memakan buah durian dari pohon ini kek?”. Si kakek menjawab :” Memang tak mungkin kalau dilihat dari umurku dan lamanya durian ini berbuah, tetapi kakek dari dulu sudah menikmati enaknya buah durian yang ditanam orang lain. Saya hanya mencoba memberikan sesuatu kepada orang lain generasi setelah kakek.”

Begitu banyak pekerjaan didunia ini yang dapat bermanfaat dan dapat dinikmati oleh orang lain. Lagu kidung jemaat kita ini dapat kita nikmati sekarang, itu ada yang diciptakan puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu. Saudara percaya adakah royalty yang diterimanya pada saat itu?

Kwalitas seseorang bukan ditentukan dari lamanya dia hidup bukan pula dari pangkat dan posisinya tetapi dari manfaat yang dia berikan kepada orang lain. Artinya orang yang terbaik adalah orang yang memberikan manfaat terbanyak kepada orang lain. Istilah kerennya :”The best of you is the most advantagous one”.

Jika kita sampai pada tingkat ini kita termotivasi untuk bekerja terbaik untuk mewujudkan visi kita yang memberi manfaat bagi semua orang, tidak ada kamus malas !

 Kenapa anak harus memiliki visi kedepan ?Anak anak kita perlu diberikan visi ke depan agar mereka dapat menentukan pilihan pilihan yang pas buat mereka. Visi dengan hanya mengatakan bahwa ;” Saya ingin hidup bahagia nanti”. Bukanlah visi yang benar itu masih slogan. Cita cita bangsa Indonesia adalah :”Masyarakat yang adil dan makmur” kenyataannya sekarang?. Itu masih slogan belumlah kata kata terapan. Oleh karena itu anak kita dapat dimulai dari muda memperkenalkan tentang visi dan dia merasa bergairah untuk mencapai visi tersebut dan yang terpenting visi itu diterjemahkan dalam kehidupan sehari hari yang menciptakan motivasi dari dalam dirinya sendiri. Visi anak yang jelas memberi dia arah yang jelas tidak mudah tergoda dengan kenikmatan sesaat, membuat anak fokus kepada minatnya, memberikan identitas nilai pribadinya dan akhirnya memberikan makna bagi orang lain. Jika anak kita dapat menampilkan visi yang unik dan berbeda dari yang lain dia tidak mungkin ditelan oleh arus persaingan yang semakin sengit.

Faktor apa yang mempengaruhi pandangan masa depan anak?

Realisasi visi ini dipengaruhi faktor external si anak yaitu kondisi dan lingkungan si anak oleh karena itu harus mendapat perhatian dan peran dari orang tua.

 Contoh : Seorang anak mempunyai bakat menjadi pianis

  • Pertanyaannya: Apakah dia nanti menjadi pianis terkemuka?
  • Jawabnya : Belum tentu
  • Faktor external yang mempengaruhi adalah :

Apakah orang tuanya tahu bakat anak tersebut sejak dini? Adakah diberikan kesempatan kepada si anak untuk mengembangkannya ? Mampukah orangtuanya membeli sebuah piano ? Mampukah orang tua membiayai untuk belajar piano?

Setidaknya jika salah satu saja tidak terpenuhi hal diatas maka potensi anak tidak akan terealisasi, menjadi pianis ternama. Oleh karena itu orang tua dan lingkungan berperan mengaktualisasikan visi dan memotivasi anak untuk menerapkan langkah menuju visi anak itu dalam kehidupan sehari hari.

Kalau anak sudah punya visi apakah ada jaminan bahwa anak akan rajin dan berhasil ?
Jawabnya :
1. Jangan kuatir akan masa depan.

Kekuatiran kelihatannya membuat kita produktif karena kita seolah mengerahkan banyak pikiran dan perasaan, padahal sesungguhnya kekuatiran adalah sesuatu yang sia-sia karena melibatkan banyak hal yang tidak dapat kita kendalikan. Dan kebanyakan hal yang kita cemaskan tidak pernah terjadi. “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari” (Matius 6:34).

2. Jangan bersandar sepenuhnya pada masa depan. P

erencanaan yang baik memang bernilai tinggi, tetapi juga harus cukup fleksibel menghadapi perubahan atau perkembangan tak terduga. Jangan hanya berpedoman pada keberhasilan rencana A; siapkan juga rencana B.

“Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu” (Amsal 27:1).3. Jangan meremehkan peran Allah dalam masa depan.

Kegagalan mengenali keterlibatan Allah dalam setiap aspek kehidupan adalah pangkal dari segala kegagalan kita. “Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: ‘Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung’, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok.………. Sebenarnya kamu harus berkata: ‘Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu’” (Yakobus 4:13 – 15)

 Bagaimana menyikapi masa depan?

 Seorang petani kehilangan seekor kuda yang sehari hari membantunya bekerja. Para tetangga datang menyatakan keprihatinannya terhadap nasib malang yang menimpanya. Tetapi si petani menjawab singkat kepada tetangganya : “Nasib baik, nasib buruk siapa yang tahu“.

Seminggu kemudian kuda itu kembali dan membawa sekawanan kuda liar pegunungan bersamanya. Tetangganya kembali datang mengucapkan selamat kepada petani itu. Ia kembali menjawab singkat : “Nasib baik, nasib buruk siapa yang tahu“.

Ketika anak petani itu mencoba menjinakkan kuda liar itu dia terjatuh dan kakinya patah dan cacat. Kembali orang sangat kasihan melihat keadaan itu. Tetapi tanggapan petani itu tetap sama: “Nasib baik, nasib buruk siapa yang tahu“.

Kemudian beberapa waktu ada kewajiban bela negara semua pemuda didaftar menjadi milisi ke medan tempur, anak petani yang cacat kakinya bebas dari kewajiban itu. Melihat itu petani itu kembali berkata: “Nasib baik, nasib buruk siapa yang tahu“.

Inilah satu cara menyikapi hidup, yang kelihatannya baik belum tentu nantinya baik, yang kelihatan buruk belum tentu nantinya buruk. Kita mempunyai keterbatasan melihat memprediksi kedepan, akan tetapi semuanya tidak kebetulan, ada campur tangan Tuhan, kita punya doa kepasrahan menyerahkan yang terbaik menurut Tuhan.

Kekuatan doa
 Ada hasil penemuan terbaru dari Dr. Larry Dossey ditulis dalam bukunya ” Healing Words” meneliti hubungan antara doa dan pengaruh terhadap penyembuhan hipertensi, serangan jantung, sakit kepala dan kecemasan. Dilakukan di AS terhadap ratusan pasien. Menemukan bahwa doa memiliki konstribusi yang significant terhadap kesembuhan pasien. Hebatnya doa yang dia pakai hanya dengan mengatakan: “Ya Tuhan berikan yang terbaik sesuai dengan kehendak-Mu”. Menurutnya inilah doa yang menyembuhkan dalam bentuk kepasrahan yang sesungguhnya.
Penutup
Di atas segalanya Alkitab mengingatkan bahwa merencanakan masa depan tidaklah sama dengan mencemaskan masa depan, juga berbeda dengan bersandar sepenuhnya pada masa depan

Kerja bukanlah hukuman tetapi panggilan Tuhan kepada manusia. Kita dipanggil untuk bekerja dan berkarya, bukan hanya demi upah tetapi demi kebanggaan, kebahagiaan dan makna hidup kita sendiri. Sebab sebagian kebanggaan, kebahagiaan dan makna hidup kita dihasilkan oleh pekerjaan dan karya cipta kita.

Seseorang pernah berujar, “Bekerjalah seolah semua tergantung pada Anda – dan berdoalah seolah segalanya tergantung pada Allah.”

Ysm/27/8/08

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: